Jakarta, 27 Januari 2026 – Fakultas Hukum Universitas Pancasila melalui Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Retorika sukses menyelenggarakan seminar bertajuk “Membangun Literasi Politik di Ruang Digital” pada Jumat, 23 Januari 2026, bertempat di Aula Masjid At-Taqwa Universitas Pancasila. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Fakultas Hukum serta sivitas akademika Universitas Pancasila sebagai upaya meningkatkan kesadaran kritis dalam menyikapi dinamika politik di era digital.

Seminar dibuka secara resmi dan diawali dengan rangkaian sambutan dari Pimpinan Umum LPM Retorika, Ketua Pelaksana, Ketua SEMA FH-KMUP, Ketua BPM FH-KMUP, hingga Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasila. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan tertib dan antusias, mencerminkan tingginya perhatian mahasiswa terhadap isu literasi politik di ruang digital.

Hadir sebagai narasumber, Dr. Ir. H. Muhammad Said Didu dan Dr. Fritz Edward Siregar, yang masing-masing memaparkan materi terkait tantangan demokrasi, arus informasi, serta peran generasi muda dalam menghadapi polarisasi politik di media sosial. Dalam pemaparannya, Dr. Fritz Edward Siregar menekankan pentingnya sikap bijak sebelum menyampaikan pendapat di ruang digital.

Ia mengingatkan bahwa setiap individu, khususnya mahasiswa, perlu berpikir terlebih dahulu sebelum berkomentar di media sosial, dengan mempertimbangkan apakah informasi yang disampaikan benar atau tidak benar, serta pantas atau tidak pantas dalam konteks diskusi politik. Menurutnya, tidak semua isu harus ditanggapi, terlebih jika justru berpotensi memperkeruh suasana.

Lebih lanjut, Dr. Fritz juga menyoroti pentingnya melek visual di era digital, di mana potongan gambar, video, maupun narasi singkat kerap digunakan untuk membentuk opini publik. Dalam konteks ini, sikap saling menghormati keberagaman sudut pandang menjadi kunci utama dalam menjaga ruang diskusi yang sehat.
Dalam pesannya kepada mahasiswa, ia merumuskan tiga peran penting yang dapat diambil oleh generasi muda. Pertama, mahasiswa diharapkan mampu menjadi pendingin, bukan pemantik konflik di ruang digital. Kedua, mahasiswa berperan sebagai konektor, yakni jembatan penghubung di tengah perbedaan pandangan politik yang ada di masyarakat. Ketiga, mahasiswa harus menjadi penjaga nalar, dengan tetap berpikir jernih, kritis, dan rasional di tengah derasnya arus informasi digital.
Melalui kegiatan ini, LPM Retorika FHUP berharap mahasiswa tidak hanya aktif secara politik, tetapi juga mampu membangun budaya diskusi yang beretika, inklusif, dan bertanggung jawab. Seminar ini menjadi bagian dari komitmen Fakultas Hukum Universitas Pancasila dalam mencetak generasi intelektual yang cakap secara hukum sekaligus dewasa dalam menyikapi realitas politik digital.